5th CFF: MOSAIC menjadi salah satu festival film yang menarik perhatian pada tahun ini. Diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Ciputra Surabaya, festival yang berlangsung pada 2–6 Juni 2026 ini menghadirkan berbagai program kreatif mulai dari pemutaran film, workshop, exhibition, hingga sesi diskusi bersama para pelaku industri perfilman Indonesia.
Mengusung tema MOSAIC, festival ini mengajak generasi muda untuk merayakan keberagaman cerita, perspektif, dan identitas yang dimiliki setiap individu. Layaknya potongan mosaik yang berbeda-beda, setiap pengalaman dan sudut pandang dapat membentuk karya yang lebih bermakna ketika disatukan.
Tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya, 5th CFF juga menjadi ruang bertemunya sineas muda, mahasiswa, komunitas kreatif, hingga para profesional industri film dalam satu rangkaian acara yang berlangsung selama lima hari.
Hadirkan Tokoh-Tokoh Inspiratif dari Industri Film Indonesia

Salah satu daya tarik utama 5th CFF adalah kehadiran sejumlah nama besar yang telah berkontribusi dalam perkembangan industri perfilman Indonesia.
Pada hari pertama, festival menghadirkan Robert Ronny, produser, penulis skenario, sekaligus CEO Paragon Pictures yang membagikan pengalaman dan pandangannya mengenai industri film Indonesia. Sesi ini menjadi kesempatan berharga bagi peserta untuk memahami proses kreatif hingga tantangan yang dihadapi para pelaku industri.
Memasuki hari kedua, Chandra Liow hadir melalui sesi bertajuk Mosaic of Becoming: Finding Passion in Filmmaking. Content creator sekaligus filmmaker tersebut berbagi perjalanan kariernya di industri kreatif digital dan bagaimana ia mengembangkan passion menjadi karya yang dapat dinikmati banyak orang.
Pada hari ketiga, festival menghadirkan Adinia Wirasti yang dikenal melalui berbagai film Indonesia populer. Dalam sesi ini, Adinia membagikan pengalaman mendalami karakter, proses kreatif sebagai aktor, hingga pandangannya terhadap perkembangan perfilman Indonesia saat ini.
Selain itu, peserta juga berkesempatan mengikuti sesi bersama Riri Riza dan Wregas Bhanuteja, dua sosok yang telah melahirkan berbagai karya penting dalam industri film nasional.
Lebih dari 280 Film dari 35 Negara

Antusiasme terhadap 5th CFF tahun ini terlihat dari jumlah karya yang masuk ke festival. Tercatat lebih dari 280 film dari 35 negara berpartisipasi dalam berbagai kategori yang dipertandingkan maupun diputar selama festival berlangsung.
Pengunjung dapat menikmati beragam program screening yang menampilkan karya dari sineas muda maupun filmmaker internasional. Selain itu, terdapat pula Open Air Cinema, exhibition photography, workshop kreatif, hingga forum komunitas yang mempertemukan berbagai komunitas film dari berbagai daerah.
Festival ini juga menghadirkan program baru bernama CFF Project Hunt, sebuah kompetisi pitching ide film yang ditujukan bagi pelajar SMA/SMK sederajat dan terbuka untuk peserta umum. Program ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan ide kreatif sekaligus melatih kemampuan mempresentasikan gagasan film secara profesional.
Ruang Berkarya dan Berjejaring bagi Generasi Muda
Lebih dari sekadar festival film, 5th CFF hadir sebagai ruang bagi generasi muda untuk belajar, berkolaborasi, dan membangun jaringan dengan sesama kreator maupun pelaku industri.
Melalui berbagai program yang dihadirkan, peserta dapat memperoleh wawasan baru mengenai proses produksi film, pengembangan ide cerita, hingga dinamika industri kreatif yang terus berkembang. Kehadiran para filmmaker, aktor, dan kreator ternama juga memberikan inspirasi bagi peserta yang ingin meniti karier di dunia perfilman.
Dukungan dari berbagai mitra, termasuk Vidio, turut memperkuat komitmen festival dalam mendukung perkembangan talenta kreatif Indonesia. Dengan semakin banyaknya ruang apresiasi seperti 5th CFF, generasi muda memiliki kesempatan lebih luas untuk menyampaikan cerita dan perspektif mereka melalui karya-karya yang autentik dan bermakna.
Melalui tema MOSAIC, 5th CFF menunjukkan bahwa setiap individu memiliki warna dan cerita yang unik. Ketika berbagai perbedaan tersebut disatukan, lahirlah sebuah karya yang mampu menghubungkan banyak orang melalui kekuatan cerita dan film.
