Vidio Logo White

Nicholas Saputra ke Festival Film Tokyo Dengan Karya Baru: Merah Sebelum Fajar

Nicholas Saputra

Nicholas Saputra – Merah Sebelum Fajar diputar perdana di Tokyo International Film Festival 2026, dan nama Nicholas Saputra ikut disebut sebagai produser di film itu. Film tersebut digarap Garin Nugroho, sementara Nicholas terlibat sejak ide cerita dibentuk. Posisinya membuat ia lebih banyak bekerja di belakang kamera daripada di depan.

Kabar itu terasa sebagai kelanjutan dari perjalanan panjang. Nicholas memulai karier sebagai pemain, dan sekarang ia berdiri di sisi lain produksi. Kabar ini juga penting karena film Indonesia tidak selalu mendapat ruang di kompetisi festival besar. Kehadiran Merah Sebelum Fajar (Red Before Dawn) di Tokyo menambah daftar judul yang lebih dulu dikenal di luar negeri.

Baca Juga: Vidio Original Film Kapan Punya Anak?

Merah Sebelum Fajar dan Peran Nicholas di Balik Layar

Bagi Garin Nugroho, Tokyo bukan tempat yang baru. Film Daun di Atas Bantal memenangi hadiah utama di festival yang sama pada 1998, dan itu membuat namanya lebih dulu dikenal di sana. Merah Sebelum Fajar (Red Before Dawn) dibawa ke edisi 2026 dengan Nicholas di jajaran produser. Ia terlibat sejak ide cerita dibentuk, bukan setelah produksi berjalan.

Film ini mengangkat sejarah Indonesia, dan itu disebut menjadi salah satu alasan ceritanya digarap. Latar sejarah membuat produksinya menuntut riset, bukan hanya urusan teknis di lokasi. Posisi produser membuatnya mengurus hal yang tidak terlihat penonton, mulai dari penyusunan cerita sampai menjaga produksi tetap berjalan. Ia tidak hanya datang sebagai pemain yang menunggu arahan.

Tampil di festival biasanya menjadi cara film Indonesia mendapat perhatian sebelum tayang di dalam negeri. Pemutaran perdana di Tokyo juga menjadi kesempatan melihat respons penonton asing lebih dulu. Festival itu sendiri rutin mempertemukan film dari sejumlah negara dalam satu program. Bagi kru, pemutaran perdana menjadi kesempatan pertama melihat reaksi penonton yang tidak mengenal latar ceritanya.

Peran seperti ini menjelaskan mengapa wajahnya jarang muncul di film dalam beberapa tahun terakhir. Kabar dari Tokyo sekaligus menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya meninggalkan dunia akting.

Jejak Nicholas Saputra, dari Rangga sampai Produser

The Architecture of Love

Perjalanan itu bisa dibaca dari dua film yang berjarak delapan tahun, yang keduanya menempatkannya sebagai pemain.Ada Apa dengan Cinta 2 tayang pada 2016, empat belas tahun setelah film pertamanya. Nicholas kembali memerankan Rangga, berpasangan lagi dengan Dian Sastrowardoyo sebagai Cinta. 

Sekuel ini tidak mengulang cerita remaja di sekolah. Konfliknya datang ketika kedua tokoh sudah dewasa dan menjalani hidup masing-masing, sehingga pertemuan mereka terasa berbeda.

Rangga pertama kali muncul pada 2002, ketika film remaja Indonesia belum sebanyak sekarang. Karakternya tidak ditulis sebagai lelaki yang mudah ditebak, dan itu yang membuatnya diingat.

Delapan tahun kemudian, Nicholas memilih peran yang jauh lebih tenang. Pada 2024 ia membintangi The Architecture of Love bersama Putri Marino, film yang diangkat dari novel.

Perannya di sana lebih banyak dibangun lewat percakapan daripada aksi. Karakternya digambarkan sebagai orang yang menahan diri, dan konfliknya bergerak pelan.

Dua film itu memperlihatkan perubahan cara ia memilih peran: dari tokoh yang ditunggu penonton menjadi tokoh yang ia bangun sendiri. Langkah itu sejalan dengan keputusannya lebih banyak bekerja di balik layar.

Perubahan itu tidak terjadi sekaligus, dan dua film tersebut adalah penandanya.

Baca Juga: Film Buya Hamka Vol.1, Jejak Perjuangan Cendekiawan yang Menginspirasi 

Nonton Film Nicholas Saputra di Vidio

Kedua film itu tersedia di Vidio dengan subtitle Indonesia. Ada Apa dengan Cinta 2 cocok untuk yang ingin mengulang cerita Rangga dan Cinta, sementara The Architecture of Love menawarkan suasana yang lebih tenang.

Keduanya bisa ditonton tanpa harus berurutan, meski menontonnya sesuai urutan rilis membuat perubahan tokohnya lebih terasa.

Untuk melihat pergeseran itu dengan jelas, menonton berurutan tetap pilihan paling masuk akal.

Kamu bisa nonton Ada Apa dengan Cinta 2 di Vidio, lalu melanjutkan dengan The Architecture of Love di katalog yang sama. Sambil menunggu kabar lanjutan soal Merah Sebelum Fajar, dua film ini cukup untuk melihat caranya bekerja sebagai pemain.

*Jadwal dan ketersediaan konten

dapat berubah sesuai kebijakan hak siar.

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

Vidio Logo White

PT. VIDIO DOT COM © 2014 - 2026